Rindu yang Menipu

Hujan turun
malu-malu
Diantara rerintik
yang jatuh satu-satu
Menyimpan derasnya
untuk lain waktu

Diantara awan
yang berubah kelabu
Mentari mengintip
malu-malu
Menyimpan sinarnya
untuk hari Rabu

Tersipu silih berganti
Perlahan namun pasti
Sekedar menyesah rindu
Yang datang menipu pagi

Selasa, 26 April 2016

Night Owl

image

Another sleepless night
Letting time pass by
Make a way to morning light
Over and over again singing lullaby

Reflection lay close by my side
With your particle in the shadow
River on the eyes, it’s time to hide
As this longing turns to sorrow

The moon echoed thy name
At a pitch black sky to end this game
With this pain, nothing to gain
But, never be the same

Rindu Sendiri

Pada sudut pikiranku, kau datang
Membawa sisa hujan
Beserta sepotong senja kelabu
Lalu menamainya rindu

Pada jendelamu aku bercermin
Memutar kembali satuan waktu
Dan mengakali jarak beribu
Lalu menamainya rindu

Langit dan bumi kita sama,
tapi rindu kau dan aku,
sendiri-sendiri.

Gara-gara Salah Sambung

Featured image

“Love is our true destiny. We do not find the meaning of life by ourselves alone. We find it with another.”
–Thomas Merton

“Apaa..?!! Lo mau ketemu dia? Jangan gila deh. Dia itu Cuma cowok yang random mencet nomer lo terus pura-pura salah sambung. Klise!” seruku setengah berteriak di telepon.

“Nggak gila kok. Kan cuma ketemuan. Lagipula setelah dua minggu kenal dia, sepertinya dia lelaki baik-baik. Jadi apa yang perlu dicemaskan sih?” suara sahabatku di ujung sana terdengar acuh. “Lagian gue nggak akan kesana sendirian. Lo temenin gue ya?”

“Hah, kenapa gue?” tanyaku heran. Jika pertemuan dia dengan cowok asing itu dianggap kencan pertama buat apa perlu orang ketiga?

“Kenapa nggak. Daripada lo harap-harap cemas pas gue ketemu dia, mending lo ikut. Oke? Bye!”

Klik.

***

Entah setan apa yang merasuki sahabatku, akhir-akhir ini dia seperti orang yang sedang kasmaran. Selalu menatap telepon genggamnya dan tidak pernah berhenti berbicara tentang Jelang. Ya, mungkin setan Jelang yang merasuki sahabatku. Sama seperti siang ini, aku harus mendengarkan dia mengoceh sepanjang jam makan siang tentang Jelang.

Semua berawal sejak dua minggu lalu, dari telepon salah sambung ke telepon genggam maureen, lalu mereka saling bertukar pesan singkat dan sekarang, mereka mulai bertukar kisah hidup mereka. Soal pekerjaan, keluarga bahkan kegetiran sesama jomblo yang kurang lebih saling mengutuk para pasangan yang memamerkan keromantisan mereka di tempat umum dan mensyukuri kejadian salah sambung yang menjadi awal komunikasi mereka.

“Jadi, kita ketemuan pas acara Pop Market. Lo bisa kan?” tanya Maureen.

“Percuma kalau gue bilang nggak bisa juga, pasti lo maksa gue.” jawabku ketus.

“Ah, makasih yaa Nan. Lo emang sahabat gue yang paling ngehits seantero jagad raya.” Maureen menunjukkan senyum konyolnya seraya meraih salad di depannya yang sedari tadi menunggu untuk dimakan.

***

Hari yang ditunggu Maureen pun tiba. Kami sudah duduk manis di taksi dalam perjalan ke acara Pop Market di bilangan selatan Jakarta. Sepanjang jalan Maureen sibuk dengan telepon genggamnya dan aku sibuk memotret jalanan ibukota yang lumayan sepi di akhir pekan. Sekitar tiga puluh menit perjalanan, taksi kami tiba di tempat tujuan. Rupanya acara tahunan Jakarta ini mendapat animo yang cukup baik dari masyarakat. Terbukti dengan meruahnya pengunjung yang memadati acara ini. Konsep acaranya pun cukup seru. Ada beberapa food truck berbaris dan sisi jalan dan tenda-tenda penjual makanan dan berbagai macam produk lainnya. Belum lagi ada beberapa dekorasi backdrop dan seni grafiti di beberapa sisi jalan. Aku pasti akan mendapatkan banyak objek foto disini.

“Telepon dulu gih, tanya dia dimana,” aku menyuruh Maureen untuk menelpon Jelang agar mereka bisa cepat bertemu dan aku bisa segera memisahkan diri dari mereka untuk mendapatkan foto-foto menarik di tempat ini.

“Nggak gitu, Nan. Kita sudah sepakat akan mencoba ketemu tanpa menghubungi satu sama lain.” Aku sempat terkejut mendengar kata-kata Maureen.

“Hah?! Jadi maksud lo kita sudah sampe sini, terus harus nanyain setiap cowo yang ada disini dia Jelang atau bukan? Lo ada fotonya ngga?” ujarku ketus.

“Ya enggak punyalah. Kita sepakat nggak akan tukeran foto atau akun sosial media. Pokoknya harus ketemu langsung dulu terus kita lihat apakah kita nyambung kalau ketemuan langsung atau hanya nyambung di telepon.”

“Terus ini sekarang gimana?” seruku mulai kesal dengan keadaan ini.

“Tenang, kita sudah saling kasih petunjuk kok, supaya bisa saling menemukan. Gue sudah bilang kalau gue akan pakai rok pensil warna merah dan ankle strap,” Maureen mengeluarkan telepon genggamnya. “Nah, ini clue dari Jelang.”

Di bawah langit. Di sisi jalan, dengan grafiti biru. Aku akan mengenakan celana khaki senada dengan warna top-sider. Semoga kita bertemu.

“Astaga Maureen…! Harusnya petunjuknya tuh tinggi dan berat badan, warna kulit, model rambut dan lain-lain. Bukan celana sama sepatu yang jadi petunjuknya!”

“Ah petunjuk fisik terlalu mainstream Nan. Gue sama Jelang nggak mau kalau kita terlalu terpaku sama penampilan fisik.” Jelas Maureen. Sungguh, aku merasa tidak satupun yang dikatakannya masuk akal.

Meski aku merasa tidak satupun yang dikatakan Maureen masuk akal, kami tetap menelusuri sisi jalan yang dihiasi dengan grafiti, yang hampir semuanya ada warna birunya. Maureen masih terlihat semangat mencari Jelang sedangkan aku berfikir kalau ini buang-buang waktu dan tenaga saja. Tapi tidak sedikitpun aku lihat wajah lelah pada Maureen, dia masih saja tersenyum walaupun beberapa kali salan menepuk lelaki yang mengenakan celana khaki, yang dia kira adalah Jelang.

“Mau, gue beli minum dulu yaa. Haus nih. Lo mau?”

“Ngga usah, Nan. Gue sambil nyari lagi yaa, gue jalan pelan deh jadi nanti lo bisa nyusul.” Aku mengangguk dan meninggalkan Maureen.

Jarak penjual minuman dengan sisi jalan yang dipenuhi grafiti itu hanya bersebrangan, jadi sambil menyeruput minumanku aku masih bisa melihat Maureen berjalan menyusuri lukisan grafiti itu. Aku baru saja hendak menyusul Maureen, setelah aku mengembalikan botol minuman ke si penjual, ketika aku melihat dia tengah berdiri di depan seorang lelaki bertubuh kurus, tinggi dengan deskripsi yang sama seperti petunjuk dari Jelang.

Maureen melambaikan tangannya padaku dan tersenyum. Tak lama, lelaki itu juga melambaikan tangannya. Tapi mereka berdua masih tidak bergeming. Masih berdiri di tempat yang sama hanya bertatapan dan sesekali tersenyum. Aku mengambil kameraku dan segera mengabadikan pertemuan mereka. Pertemuan yang diatur dengan cara yang konyol dan menggelikan. Cinta sungguh lucu.

Jika penampilan fisik tidak penting bagi mereka, maka sepertinya aku tidak perlu memotret mereka dari kepala hingga kaki.

Kamisan #8 Season 3: Past of the Future

08 Olih

“Terlalu bagus atau terlalu jelek?” tanya pria yang duduk di sebelahku. Senyumannya menunjukan deretan gigi putih bersih dan terawat dengan baik. Aku mengalihkan pandanganku dari senyumannya dan mengembalikan fokusku ke pertanyaannya.

“Maaf?” aku bertanya balik.

Aku memperhatikan sekelilingku. Sepertinya hanya aku dan pria ini yang tidak sibuk dengan telepon genggam kami. Orang-orang lain lebih memilih menatap telepon genggam mereka. Sedangkan aku sibuk menatap tembok di hadapanku dan pria itu…entahlah, mungkin sibuk menatapku yang sedang menatap tembok itu. Berharap saja kau Kinan.

“Jelang,” pria itu mengulurkan tangannya sambil memperlihatkan senyumannya lagi. Aku membalas mengulurkan tanganku dan menjabat mantap tangannya. Kata orang, tingkat kepercayaan dirimu terpancar saat kau berjabat tangan dengan erat. Tangannya hangat.

“Kinan,” jawabku.

“Dari tadi saya perhatikan kamu melihat tembok itu terus-menerus. Dari atas ke bawah dan dari kanan ke kiri. Seperti sedang memikirkan bagaimana benda-benda itu bisa ada di sana. Jadi, saya penasaran apakah menurut kamu tembok itu terlalu bagus atau terlalu jelek? Atau terlalu aneh?” ia tersenyum diujung kalimatnya. Aku membalas senyumannya dengan helaan nafas panjang.

“Aneh.” Jawabku singkat.

“Oh ya? Aneh kenapa?” Ia bertanya kembali dan diiringi senyuman yang sama. Sebenarnya ia hanya mengenakan kaos oblong berwarna hitam dengan gambar botol Jack Daniels di bagian depan dan celana denim kumal yang dipadukan dengan sepatu kanvas berwarna senada dengan denimnya. Tapi sungguh, dengan senyuman seperti itu dia tidak perlu mengenakan apa-apa lagi untuk terlihat keren. Cukup senyumannya.

“Mm…kenapa yaa? Ya buatku aneh saja, bagaimana benda-benda itu bisa sampai di sana? Apa menurutmu tidak aneh?” aku mencoba mempertahankan percakapan ini dengan bertanya balik.

Ia berdiri dari kursi kami. Maju beberapa langkah ke arah railing dan bersandar di salah satu tiang lampu dengan bohlam putih benderang. “Jika kamu bisa menggambarkan tembok ini dalam dua kata, apa yang akan kamu katakan?” tanyanya dengan agak serius.

“Rongsokan dan melelahkan. Karena pastinya untuk menaruh rongsokan itu ke atas sana, memerlukan usaha yang lumayan melelahkan. Kalau kamu?” Aku berdiri dan menghampiri pria itu. Sekarang kami berdiri bersebelahan, berseberangan dengan tembok yang menjadi pokok bahasan kami saat ini.

“Seni dan daur ulang.”

“Hei, daur ulang itu sudah dua kata” protesku. Dia tersenyum.

“Iya sih. Kamu benar. Tapi buat saya ini bukan rongsokan. Ini karya seni.”

“Apanya yang seni?” tanyaku penasaran.

“Buat saya saat kamu memperhatikan tembok itu tanpa jeda dan kemudian kamu bertanya-tanya bagaimana benda-benda itu bisa sampai di atas sana, itu sudah termasuk seni.”

“Masa segampang itu? Hanya karena aku penasaran, menjadikan tembok itu karya seni?” dia mengangguk pelan. “Kalau begitu, ketika kamu penasaran mengenai apa yang aku pikirkan mengenai tembok itu, apakah menjadikan aku sebuah karya seni juga?” pria itu tertawa mendengar pertanyaanku. Ya ampun, Kinan, tak bisakah kau terdengar pintar barang sekejap demi lelaki ini. Sekarang dia pasti hanya menganggapmu sebagai lelucon.

“Ha ha ha… menurut saya pribadi, iya, kamu karya seni. Ciptaan Tuhan, sang Master seni.” Aku mengernyitkan dahiku mendengar jawabannya. Seolah tahu aku tidak mengerti omongannya, ia kembali menyunggingkan senyumannya. “Kamu pernah berfikir tidak, Tuhan menciptakan miliaran manusia dan tidak ada satupun yang serupa, pasti Dia memiliki selera seni yang tinggi kan?” Aku menganggukan kepalaku.

“Lantas, menurutmu apa yang digambarkan tembok ini tentang penciptanya? Kalau menurutku, dilihat dari pilihan barang-barang itu, pembuat tembok ini pasti seniman tua yang gila, iyakan?” Tanyaku bermaksud melucu. Tapi ia hanya tertawa singkat.

“Mungkin saja. Jika menurut kamu ide tembok ini tua dan gila,” jawabnya.

“Kira-kira menurutmu pesan apa yang ingin disampaikan si pembuat tembok ini?” tanyaku penasaran.

“Mungkin siapapun yang membuat tembok ini ingin mendaur ulang rongsokan menjadi seni. Bahwa sesuatu yang lawas, seperti benda-benda itu, walaupun sudah tidak memiliki nilai fungsional masih mempunyai nilai estetika. Atau mungkin juga tembok itu bercerita tentang masa lalu. Benda-benda itu semua barang kuno, barang lama, bagian dari masa lalu. Tapi gedung ini adalah gedung yang baru dibangun, dindingnya baru, bagian masa kini. Barang kuno menghiasi dinding masa kini. Masa lalu akan membentuk kita sekarang dan nanti. Jadi tergantung kamu melihat masa lalu sebagai rongsokan atau seni?” Ia menjelaskannya dengan sangat serius seolah-olah dia bagian dari tembok itu. Aku mulai berfikir, jangan-jangan pria ini kurator seni atau memang seniman.

“Wow! Sekarang aku akan melihat tembok ini lebih dari sekedar tembok. Tapi karya seni.” Ujarku. Ia kembali tersenyum. Kami menatap dinding itu kembali dan tidak bicara apa-apa.

“Pintu teater tiga telah dibuka, kepada penonton yang telah memiliki tiket, dipersilahkan masuk,” suara perempuan pada pengeras suara membuyarkan lamunan kami.

“Itu teater kamu kan? Tiketmu. Teater tiga, pintunya sudah di buka.” Ia mengulang pengumuman pada pengeras suara tadi.

“Oh iya. Kamu juga nonton di teater tiga?” tanyaku. Semoga ia menjawab ya. Semoga iya.

“Tidak. Saya tidak kesini untuk nonton. Saya jalan dulu ya.” Ia kembali mengulurkan tangannya bersamaan dengan senyuman. “Senang berbincang dengan kamu, Kinan. Selamat menikmati filmnya.”

“Sama-sama, Jelang.” Kami melepaskan jabat tangan kami. Ia melangkah menuju eskalator yang menjadi pemisah antara railing tempat kami berdiri dengan tembok itu lalu eskalator yang sama mengantarkannya satu lantai lebih rendah dari tempat kami tadi berdiri. Aku masih melihatnya hingga ia hilang di antara kerumunan pengunjung lain.

Aku melangkahkan kakiku melewati sisi samping tembok aneh itu. Ada semacam kotak bening kecil menempel disana dengan tulisan:

Past of the Future
By: Jelang Anggadito Adi

Dan satu kalimat terus-menerus berulang di benakku, “pembuat tembok ini pasti seniman tua yang gila”

 Astaga, Kinan!!!

***

Note:
Picture courtesy of Olih.

***